Selasa, 28 April 2020

Makalah taubat


TAUBAT

A.    Pengertian Taubat

            Taubat secara bahasa berasal dari kata bahasa Arab يتوب – تاب   yang  berarti “kembali”. Secara istilah, taubat berarti kembali ke jalan yang benar dengan didasari keinginan yang kuat dalam hati untuk tidak kembali melakukan dosa-dosa yang pernah dilakukannya.
            Ada beberapa pengertian taubat menurut Ulama diantaranya :
1.      Abu Ya’qub Yusuf bin Hamdan as-Susi “Tobat adalah kembali dari segala sesuatu yang dicela oleh ilmu (Syari’at) untuk menuju pada apa yang dipuji oleh ilmu
2.      Sahl bin Abdullah “Tobat adalah hendaknya jangan melupakan dosa anda”.[1]
     
      Taubat bukan hanya meninggalkan segala hal yang tidak disukai oleh hati dan perasaan melainkan juga kembali kepada Allah SWT dari segala hal yang tidak disukai dan ridhoi oleh-Nya, termasuk hal-hal yang dianggap oleh akal sebagai sesuatu yang baik dan berguna. [2] 
            Yang dimaksud dengan taubat (at-taubah) yang akan kita bahas dalam penjelasan sederhana dalam tulisan ini adalah bertawajuh kepada Allah dengan penuh penyesalan dan rasa perih di dalam hati seraya mengakui semua kesalahan, meratap dalam penyesalan, dan tekad untuk meninggalkan kesalahan yang lalu.
B.       Anjuran untuk Bertaubat
-         Taubat pada ayat Al-Qur’an
Allah SWT mengingatkan hambanya untuk selalu bertaubat dari segala dosa-dosa dan maksiat yang telah diperbuat. Banyak firman Allah SWT dalam al-Qur’an yang memerintahkan kita untuk bertaubat diantaranya,
Firman Allah SWT dalam surat An-Nur ayat 31:
وَتُوْبُوْا اِلَى اللهِ جَمِيْعًا اَيُهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (An-Nuur: 31)[3]
Dan di ayat lain Allah berfirman:                
يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا تُوْبُوْا اِلَى اللهِ تَوْبَةً نَّصُوْحًا عَسَى رَبُّكُمْ اَنْ يُكَفِرَ عَنْكُمْ سَيِأَتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهَارُ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kamu kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhanmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu kedalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai (At-Tahrim : 8)[4]

-         Adapun dalam Hadis
وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال‏:‏ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ‏:‏ ‏ "‏ من تاب قبل أن تطلع الشمس من مغربها تاب الله عليه‏"‏ ‏(‏‏(‏رواه مسلم‏)‏‏)‏‏.‏
        Riwayat dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah Saw. Bersabda: “Barangsiapa bertobat sebelum matahari terbit dari barat, niscaya Allah menerima tobatnya.”                                                                                                      (HR. Muslim).[5]

وعن أبي عبد الرحمن عبد الله بن عمر بن الخطاب رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال‏:‏ ‏ "‏ إن الله عز وجل يقبل توبة العبد ما لم يغرغر‏"‏ ‏(‏‏(‏رواهالترمذيوقال‏:‏ حديث حسن‏)‏‏)‏‏.‏
            Dari Abu ‘Abdurrahman ‘Abdullah bin ‘Umar bin Khattab ra. dari Nabi saw., beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung akan menerima taubat seseorang sebelum nyawanya sampai di tenggorokan (sebelum ia sekarat)”. (Riwayat At Turmudzy).[6]
وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال‏:‏ سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول‏:‏ ‏ "‏والله إني لأستغفر الله وأتوب إليه في اليوم أكثر من سبعين مرة ‏"‏ ‏(‏‏(‏رواهالبخاري‏)‏‏)‏‏.‏
            Dari Abu Hurairah ra. berkata: “Saya mendengar Rasulullah SAW. bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya saya membaca istighfar dan bertaubat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali setiap harinnya”. (Riwayat Bukhari).[7]


C.     Macam-macam Taubat
            Berdasarkan individu yang melakukan taubat dan kondisi mereka, para pakar telah membagi taubat menjadi tiga bagian sebagai berikut :
a.      Taubat orang awam. Yaitu mereka yang terhalang dari hakikat, adalah perasaan tidak nyaman yang muncul disebabkan pelanggaran terhadap perintah Allah al-Haqq subhanahu wa ta’ala yang terasa menyusahkan di dalam hati. Orang itu telah mengetahui dosanya dan ia pun menuju pintu pengampunan Allah SWT dengan kata-kata taubat dan istigfar
b.      Kembalinya orang-orang  khawash yang mulai sadar akan hakikat. Lalu mereka pun bertekad kuat setelah melakukan gerakan, suara, dan pikiran yang menyimpang adab-adab al-hud      ur (kehadiran bersama Allah) dan al-ma’iyyah (kebersamaan dengan Allah).
c.      Tawajuh dilakukan oleh kaum khusus diantara yang khusus (Akhashsh al-Khawash) yang selalu menjalani hidup mereka dalam cakrawala “Sesungguhnya kedua mataku tidur, tapi hatiku tidak tidur”. Mereka meninggalkan segala hal yang berhubungan dengan semua yang selain Allah Subhanahu wa ta’ala yang menjadi tabir dalam hati mereka, dalam sirr mereka, dan dalam bagian paling tersembunyi dari diri mereka.[8] 

D.    Manfaat Taubat

1.      Taubat dapat menghapuskan segala dosa
Allah SWT dengan tegas menyatakan bahwa siapapun yang bertaubat dengan sebenar-benarnya kepada-Nya, niscaya Dia akan mengampuni dosa-dosa orang tersebut.
2.      Taubat mengganti keburukan menjadi kebaikan
Inilah salah satu kemurahan Allah SWT terhadap hamba-Nya yang tidak pernah berputus asa dari mengharap rahmat dan ampunan-Nya. Dia berkenan untuk menjadikan taubat sebagai ‘alat barter’ untuk mengganti keburukan menjadi kebaikan.
3.      Taubat dapat mensucikan hati
Dosa itu diibaratkan sebagai noda. Ketika seseorang banyak melakukan dosa, maka didalam hatinya akan terkumpul banyak noda, dan taubat itulah yang mampu mensucikan nya. Orang yang bertaubat dengan sebenar-benarnya, niscaya hatinya akan menjadi suci.
4.      Taubat menjadi sebab keberuntungan didunia dan akhirat
Orang yang tidak mau bertaubat, pasti akan celaka, sementara orang yang mau bertaubat, menyesali kesalahannya, dan segera kembali kepada-Nya, dengan banyak melakukan perbuatan saleh, maka dia itulah orang yang beruntung.[9]








[1] Abu Nashr as-Sarraj, Al-Luma’ Rujukan Lengkap Ilmu Tasawuf, Risalah Gusti, Surabaya:2002 hlm.90
[2] Muhammad Fethullah Gulen, Tasawuf Untuk Kita Semua, Republika, Jakarta:2013 hlm. 25
[3] Imam Nawawi, Riyadus Shalihin, PT. Karya Toha Putra Semarang, Semarang: 2004 hlm. 9
[4] Imam Nawawi, Riyadus Shalihin, PT. Karya Toha Putra Semarang, Semarang: 2004 hlm. 9

[5] Imam Nawawi, Riyadus Shalihin, PT. Karya Toha Putra Semarang, Semarang: 2004 hlm.11
[6] Ibid.,hlm.11
[7] Ibid.,hlm.9
[8] Muhammad Fethullah Gulen, Tasawuf Untuk Kita Semua, Republika, Jakarta:2013 hlm. 26-27

Tidak ada komentar:

Posting Komentar